Melawan Mitos Penjualan Motor dan Juara MotoGP
22 November, 2016 dibaca normal 2:30 menit dumber ;https://tirto.id/melawan-mitos-penjualan-motor-dan-juara-motogp-b5sg
INTI BERITA
Kemenangan di ajang MotoGP sering dianggap berbanding lurus
dengan kenaikan penjualan motor terhadap tim merek motor yang juara.
Ihwal semacam ini dianggap berkaitan di Indonesia. Mitos atau nyata?
Sekilas, bila mengkomparasikan data penjualan motor di Indonesia dan pemenang MotoGP dalam kurun 2006-2015, prestasi ciamik di MotoGP memang sejalan dengan kenaikan penjualan motor.
Ketika pembalap Yamaha, Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo menjadi juara musim 2008-2010, rerata penjualan Yamaha pada tiga tahun itu cenderung naik 13,5 persen per tahun, semula 2,4 juta unit pada 2008, naik jadi 2,6 juta unit pada 2009 dan pada 2010 melonjak tajam jadi 3,3 juta unit.
Hal sama juga dialami oleh Honda. Ketika Marc Marquez juara dua musim berturut-turut, pada 2013 dan 2014, rerata penjualan motor Honda di Indonesia terkerek naik sekitar 10 persen. Yang semula 4 juta unit saat Honda tak juara di musim 2012, naik jadi 4,6 juta unit pada 2013 dan 5 juta unit pada 2014. Ketika Casey Stoner membantu Honda juara 2011, penjualan Honda di Indonesia naik 20 persen.
Ibarat dua sisi mata uang, ketika gagal juara maka penurunan penjualan pun akan dirasakan, khususnya oleh produsen Honda. Saat gelar juara diraih Ducati 2007, penjualan Honda anjlok sampai minus 9 persen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar